Mikrobiologi pangan bro.... :)
|
PENENTUAN ANGKA
TOTAL PLATE COUNT PADA PRODUK FERMENTASI IKAN
|
|
1 Program Studi D3 Analis Farmasi dan Makanan FMIPA ULM, Jl. Ahmad Yani KM.36, Banjarbaru, Indonesia
Program
Studi Biologi FMIPA ULM, Jl. Ahmad Yani KM.36,
Banjarbaru, Indonesia
*E-mail :
saripahfarmasi2@gmail.com
|
|
|
Abstrak. Fermentasi adalah proses yang memanfaatkan kemampuan
mikroba untuk menghasilkan metabolit primer dan metabolit sekunder dalam suatu
lingkungan yang dikendalikan. Proses pertumbuhan mikroba merupakan tahap awal
proses fermentasi yang dikendalikan terutama dalam pengembangan inokulum agar
dapat diperoleh sel yang hidup. Pengendalian dilakukan dengan pengaturan
kondisi medium, komposisi medium, suplai O2, dan agitasi. Jumlah
mikroba dalam fermentor juga harus dikendalikan sehingga tidak terjadi
kompetisi dalam penggunaan nutrisi. Nutrisi dan produk fermentasi juga
perlu dikendalikan, sebab jika berlebih nutrisi dan produk metabolit
hasil fermentasi tersebut dapat menyebabkan inhibisi dan represi. proses fermentasi berkenaan
dengan reaksi biokimia, aktivitas mikroorganisme dan enzimnya. Pola fermentasi
mikrobial mempunyai kisaran fermentasi bahan pangan sebagai hasil kegiatan
beberapa jenis mikroorganisme yang terjadi secara anaerobik. Semua organisme
membutuhkan sumber energi-energi yang diperoleh dari metabolisme bahan pangan
dimana organisme berada di dalamnya. Bahan baku energi yang paling banyak
digunakan diantara mikroorganisme adalah glukosa. Adanya oksigen beberapa
mikroorganisme mencerna glukosa dan menghasilkan air, dan karbondioksida. Standar plate Count (Angka Lempeng Total)
adalah menentukan jumlah bakteri dalam suatu sampel. Dalam test tersebut
diketehui perkembangan banyaknya bakteri dengan mengatur sampel, di mana total
bakteri tergantung atas formasi bakteri di dalam media tempat tumbuhnya dan
masing-masing bakteri yang dihasilkan akan membentuk koloni yang tunggal. Salah satunya hasil dari fermentasi suatu produk ikan pakasam dan ikan
wadi.
Kata kunci: Total
plate count1, Fermentasi2, Ikan Pakasam3, Ikan
wadi4
1.
PENDAHULUAN
Mikroorganisme
ialah jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup.
Jasad tersebut dapat hidup hampir disemua tempat dipermukaan tanah. Mikroorganisme
mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin hingga lingkungan yang
relative panas, dari lingkungan yang asam hingga basa. Berdasarkan peranannya,
mikroorganisme dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu mikroba menguntungkan dan
mikroba merugikan (Afrianto, 2005).
Ikan sebagai bahan
makanan yang mengandung protein tinggi dan mengandung asam amino essensial yang
diperlukan oleh tubuh, di samping itu nilai biologisnya mencapai 90 persen,
dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah dicerna. Proses pengolahan ikan
secara tradisional memegang peranan penting bagi di Indonesia khususnya bagi
nelayan tradisional. Hampir 50 % hasil tangkapan ikan diolah secara tradisional
dan ikan asin merupakan salah satu produk olahan ikan secara tradisional yang
banyak dikonsumsi masyarakat. Pengasinan ikan adalah salah satu cara pengawetan
ikan agar tidak mengalami kebusukan oleh bakteri pembusuk dengan menambahkan garam
15-20 % pada ikan segar atau ikan setengah basah (Salosa, 2013).
Bakteri asam laktat yang digunakan pada produk
fermentasiikan berupa kultur starter. Bakteri asam laktat dapat digunakan sebagai kultur
starteryakni apabila telah mencapai jumlah koloni bakteri yakni 107-108 CFU/mL. menggunakan bakteri asam laktat yang
dapat menghambat bakteri
patogen dan memenuhi persyaratan
keamanan pangan (Harmain et
al, 2012).
Bakteri asam laktat (BAL) adalah salah satu bakteri yang digunakan dalam proses pengawetan bahan pangan. BAL dapat dimanfaatkan sebagai starter dalam proses fermentasi. BAL termasuk bakteri yang menguntungkan. BAL dapat menghambat pertumbuhan bakteri pembusuk dan bakteri patogen pada produk pangan serta produk fermentasi. BAL mempunyai kemampuan memfermentasi gula menjadi asam laktat. BAL memproduksi asam berlangsung secara cepat sehingga pertumbuhan mikroba lain yang tidak diinginkan dapat terhambat (Noviana et al, 2012). koloni CFU hanya perkiraan jumlah sel yang ada. Ini adalah perkiraan miring paling baik sebagai satu-satunya sel, bisa membentuk koloni adalah mereka yang bisa tumbuh dibawah kondisi ujian (mis., media inkubasi, suhu, waktu, kondisi oksigen) (Sutton, 2011). Bakteri asam laktat adalah mikroorganisme digunakan sebagai biakan starter untuk fermentasi.
Kelompok bakteri ini telah banyak digunakan pada produk fermentasi seperti keju, dan yogurt (Widodo et al, 2017). Ikan mungkin terkontaminasi pada berbagai tahap, penanganan, dan pengolahan. Kontaminasi ini mungkin terkait dengan bahan baku, personil, dan alat pengolahan seperti forklif kebocoran, serangga, dan hama. Kontaminasi dapat disebabkan oleh patogen bawaan makanan yang secara alami ada di lingkungan perairan, seperti
Vibrio spp., Atau berasal dari air limbah yang terkontaminasi semacam itu seperti Salmonella spp. Konsumsi ini terkontaminasi dapat menyebabkan infeksi atau keracunan pada konsumen (Sanjee & Karim, 2016).
2.
METODE
Preparasi
Sampel
Ditimbang masing-masing ikan sebanyak 10 gram.
Kemudian dimasukkan ke dalam larutan pengencer 90 ml (0,1% pepton + 0,85% NaCl)
dan dilakukan penggoyangan selama 15 menit menggunakan orbital shaker. Selanjutnya dari masing-masing bahan dipipet
sebanyak 1,0 ml secara aseptic serta dilakukan pengenceran bertingkat hingga
1/1.000.000 dan dari pengenceran 1/1.000. 1/10.000, 1/100.000, 1/1.000.000
diinokulasikan kedalam cawan petri sebanyak 1,0 ml. kesemua contoh tersebut
dianalisis plate count dengan
perungan perlakuan contoh secara duplo. Diinkubasi dilakukan selama 48 jam pada
suhu 35 + 10. Setelah diinkubasi, total coloni yang tumbuh
pada media dan dihitung total menggunakan colony
counter dan dinyatakan sebagai angka total plate count.
3.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Hasil
Hasil
yang didapat pada percobaan ini adalah
Tabel 1.
Jumlah perkiraan mikroba dalam sampel


Gambar 1. a.
ikan segar b. ikan wadi,
c. ikan pakasam
Pembahasan
Percobaan
kali ini yaitu penentuan angka total plate count pada produk fermentasi ikan
bertujuan untuk menentukan angka total plate count dari masing-masing produk
fermentasi berbasis ikan, sampel yang digunkan adalah sampel ikan segar, ikan
wadi, dan ikan pakasam. Prinsip dari metode hitungan cawan atau total plate
count (TPC) adalah menumbuhkan sel mikroorganisme yang masih hidup pada media
agar, sehingga mikroorganisme akan berkembang biak dan membentuk koloni.
Prinsip
dari metode hitungan cawan atau Total Plate Count (TPC) adalah menumbuhkan sel
mikroorganisme yang masih hidup pada media agar, sehingga mikroorganisme akan
berkembang biak dan membentuk koloni yang dapat dilihat langsung dan dihitung
dengan mata tanpa menggunakan mikroskop. Metode ini merupakan metode yang
paling sensitif untuk menentukan jumlah mikroorganisme.Dengan metode ini, kita
dapat menghitung sel yang masih hidup, menentukan jenis mikroba yang tumbuh
dalam media tersebut serta dapat mengisolasi dan mengidentifikasi jenis koloni
mikroba tersebut.
Prinsip
isolasi mikroba adalah memisahkan satu jenis mikroba dengan mikroba yang lain
yang berasal dari campuran bermacam-macam mikrobaa. Hal ini dapat dilakukan
dengan menumbuhkannya dalam media padat, sel-sel mikroba akan membentuk koloni
sel yang tepat pada tempatnya. Spread
plate adalah teknik menanam dengan menyebarkan suspense bakteri dipermukaan
agar, agar diperoleh kulter murni. Prosedur kerjanya adalah suspense cairan
diambil sebanyak 0,1 ml dengan mikropipet kemudian diteteskan diatas permukaan agar yang telah memadat.
Trigalski kemudian dipanaskan diatas Bunsen dan didinginkan beberapa detik.
Kemudian suspense diratakan dengan menggosokkan pada permukaan agar, penyebaran
akan lebih efektif bila cawan ikut diputar. Teknik
pengenceran merupakan hal yang harus dikuasai.Sebelum mikroorganisme
ditumbuhkan dalam media, terlebih dahulu dilakukan pengenceran sampel
menggunakan larutan fisiologis.Tujuan dari pengenceran sampel yaitu mengurangi
jumlah kandungan mikroba dalam sampel sehingga nantinya dapat diamati dan
diketahui jumlah mikroorganisme secara spesifik sehingga didapatkan perhitungan
yang tepat.Pengenceran memudahkan dalam perhitungan koloni
Metode kerja pada
percobaan ini menggunakan metode cawan sebar atau spread plate, dengan menggunakan media Standar Plate Count Agar (SPCA), bahan yang telah disiapkan
masing-masing ditimbang sebanyak 10 gram lalu dihaluskan dengan cara digerus ,
dimasukkan kedalam larutan pengencer 90 ml (NaCI 0,85%) dierlenmeyer dan
dilakukan penggoyangan selama 15 menit menggunakan orbital shaker. Selanjutnya dari masing-masing bahan pipet sebanyak
1 ml secara aseptic serta dilakukan penegenceran bertingkat. Pengenceran
dilakukan hingga 1/1.000.000, diinkolasikan kedalam cawan petri menggunakan
metode spread plate sebanyak 1 ml
dari pengenceran pengenceran
1/1.000. 1/10.000, 1/100.000, 1/1.000.000. kemudian dianalisis dengan cara
perulangan perlakuan contoh secara duplo. Inkubasi sampel dilakukan selama + 48 jam pada suhu 35 + 0C. Setelah inkubasi,
total koloni yang tumbuh pada media SPCA dihitung total koloni menggunakan colony counter dan dinyatakan sebagai
angka total plate count yaitu ikan
segar, jumlah mikroba 104 banyak koloni 329 dan angka standar plate
count, 3 x 106, jumlah mikroba 105 banyak koloni 167 dan
angka standar plate count 2 x 107, jumlah mikroba 106
banyak koloni 103dan TPC 1 x 106, ikan wadi jumlah mikroba 10-4 banyak koloni 3
dan TPC 3 x 104, jumlah mikroba 10-5 banyak koloni 5 dan
TPC 5 x 106, 10-6 tidak ada koloni, dan ikan
pakasam, jumlah mikroba 10-4 banyak koloni 14 dan TPC 1 x 105,
jumlah mikroba 10-5 banyak koloni 37 dan TPC 4 x 106 dan
jumlah mikroba 10-6 banyak koloni 1 dan TPC 1 x 106.
Suatu cawan yang tidak ada tumbuh koloni, hal ini dapat terjadinya kontaminasi
pada sampel dan mungkin dikarenakan pengerjaan kurang aseptic pada saat
pengerjaan atau faktor dari media nya.
4.
KESIMPULAN
Kesimpulan dari praktikum ini adalah pada produk fermentasi
ikan wadi, pakasam, dan ikan segar. Pada inkubasi 48 jam untuk sampel ikan wadi
terdapat koloni bakteri pada pengenceran 104 dengan total jumlah
koloni adalah sebesar 3 x 106 CPU/gram. Sedangkan pada inkubasi 48
jam untuk sampel ikan wadi terdapat koloni bakteri pada pengenceran. total koloni yang tumbuh pada media SPCA
dihitung total koloni menggunakan colony
counter dan dinyatakan sebagai angka total plate count yaitu ikan segar, jumlah mikroba 104 banyak
koloni 329 dan angka standar plate count, 3 x 106, jumlah mikroba 105
banyak koloni 167 dan angka standar plate count 2 x 107, jumlah
mikroba 106 banyak koloni 103dan TPC 1 x 106, ikan
wadi jumlah mikroba 10-4
banyak koloni 3 dan TPC 3 x 104, jumlah mikroba 10-5
banyak koloni 5 dan TPC 5 x 106,
10-6 tidak ada koloni, dan
ikan pakasam, jumlah mikroba 10-4 banyak koloni 14 dan TPC 1 x 105,
jumlah mikroba 10-5 banyak koloni 37 dan TPC 4 x 106 dan
jumlah mikroba 10-6 banyak koloni 1 dan TPC 1 x 106.
5.
UCAPAN TERIMAKSIH
Saya ucapkan banyak
terimakasih kepada saudari Rizky Utiya Rahmah selaku asisten pembimbing
praktikum dan dosen pembimbing Ibu Ika Oksi Susilawati
selaku dosen pembimbing praktikum yang selalu memberikan arahan ketika
berjalannya praktikum
6.
DAFTAR
PUSTAKA
Afrianto, E,. & L. Evi. 2005. Pakan Ikan. Kansius, Yogyakarta.
Noviana, N. Y., S. Lestari & S. R.J
Hangita. 2012. Karakteristik Kimia dan Mikrobiologi Silase Keong Mas (Pomacea canaliculata) Dengan Penambahan
Asam Format dan Bakteri Asam Laktat 3B104. 1(1) : 55-68.
Sanjee, S. A & M. E. Karim. 2016.
Microbiological Quality Assement of Frozen Fish and Fish Processing Material
from Bangladesh. Internasional Journal of
Food Science. 20(16) : 1-6.
Salosa, Y.Y. 2013. Uji Kadar Formalin, Kadar
Garam dan Total Bakteri Ikan Asin Tengiri Asal Kabupaten Sarmi Provinsi Papua. Depik. 2(1) : 10-15.
Sutton, S. 2011. Accuracy of Plate Counts. Journal of Validation Technology. 17(3)
: 42-46.
Widodo., R. Handaka., E. Wahyuni & T.T.
Taufik. 2017. The Quality of Fermented milk Produced Using Intestinal-origin
Lactic Acid Bacteria As Starters. International
Food Research Journal. 24(6) : 2371-2376.
Komentar
Posting Komentar