Mikrobilogi praktikum baru nih... Aaassssikkkk....
Nor Saripah,(1)
Monica sarah putri(2)
Hasrul Satria Nur(3)
(1) Program studi D3 Analis Farmasi
dan Makanan, FMIPA, Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Jendral A. Yani Km 36,
Banjarbaru, 70713, lndonesia
(2) Program Studi Biologi, FMIPA,
Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Jendral A. Yani Km 36, Banjarbaru, 70713
(3) Laboratorium Mikrobiologi,
FMIPA, Universitas Lambung Mangkurat, Jalan Jendral A. Yani Km 35,8 Banjarbaru, 70713, lndonesia
E-mail : saripahfarmasi2@gmail.com
Abstrak
Bakteriofag adalah virus yang sel inangnya berupa sel bakteri,
contohnya virus bakteri E. coli. Sebagian besar bakteriofag
mempunyai asam nukleat double-stranded DNA (dsDNA), akan tetapi ada juga yang asam nukleatnya berupa single-stranded DNA (ssDNA) dan virus RNA. Bakteriofag memiliki kapsid
yang berbentuk polyhedral dan diselubungi oleh protein. Bakteriofag juga memiliki ekor seperti benang, tersusun atas protein, yang dapat mengenali
reseptor pada sel inang pada saat tahap pelakatan. Bakteriofag
merupakan virus yang menginfeksi bakteri dan mampu membunuh sel bakteri tersebut secara langsung atau mengintegrasikan DNA
virus ke dalam kromosom bakteri inang.
Kata kunci : Bakteriofage, bakteri E. coli, virus
I.
Pendahuluan
Virus adalah satu set dari satu atau lebih molekul
genom berupa asam nukleat (RNA atau DNA), yang biasanya dibungkus oleh
selubung pengaman berupa protein selubung atau lipoprotein dan
hanya dapat memperbanyak diri dalam sel inang
hidup yang sesuai dengan memanfaatkan metabolisme, materi, dan energi dari sel inang. Virus merupakan unit elemen yang masih
menunjukkan tanda kehidupan, sehingga virus dapat juga
didefinisikan sebagai organism aseluler yang
mempunyai genom yang hanya dapat bereplikasi dalam sel inang dengan menggunakan perangkat metabolisme sel inang untuk membentuk
seluruh komponen virus (Pelczar and Chan, 2008).
Virus mulai diketahui keberadaannya oleh Adolf Meyer, seorang ilmuwan Jerman pada tahun 1883. Ketika itu, ia menyelidiki penyakit mozaik pada daun tembakau. Hasil penyelidikannya menunjukkan bahwa jika daun yang terserang itu diambil zatnya kemudian disuntikkan pada daun yang sehat, maka daun tersebut akan menderita penyakit yang sama. Selain itu, diketahui pula bahwa zat yang menyebabkan penyakit itu tetap menembus kertas saring rangkap dua dan tidak dapat ditumbuhkan
dalam media agar-agar. Virus sering diperdebatkan statusnya sebagai makhluk hidup karena tidak dapat menjalankan fungsi
biologisnya secara bebas.
Karakteristik khas virus ini selalu terasosiasi dengan penyakit tertentu, baik pada manusia (misalnya virus influenza dan
HIV), hewan (misalnya virus flu burung), atau tanaman
(misalnya virus mozaik tembakau atau TMV) (Pelczar and
Chan, 2008).
Bakteriofag adalah virus yang sel inangnya berupa sel bakteri, contohnya virus bakteri E. coli. Sebagian besar bakteriofag mempunyai asam nukleat double-stranded DNA (dsDNA), akan tetapi ada juga yang asam nukleatnya berupa single-stranded DNA (ssDNA) dan virus RNA. Bakteriofag memiliki kapsid yang berbentuk polyhedral dan diselubungi oleh protein. Bakteriofag juga memiliki ekor seperti benang, tersusun atas protein, yang dapat mengenali reseptor pada sel inang pada saat tahap pelakatan (Haq et al., 2012).
Bakteriofag merupakan virus yang menginfeksi bakteri
dan mampu membunuh sel bakteri tersebut secara langsung atau
mengintegrasikan DNA virus ke dalam kromosom
bakteri inang (Budzik, 2003).
Layaknya virus lainnya, bakteriofag juga mempunyai penyusun yang serupa berupa mantel protein dan asam nukleat, yang berupa ssRNA, dsDNA dan dsRNA (ss: untai tunggal, ds: untai ganda), bentuk untaian asam nukleat tersebut umumnya linier, circular maupun segmented. Dilihat dari perilaku bakteriofag, beberapa bakte-riofag dapat menyisipkan asam nukleatnya dengan asam nukleat bakteri inang dan dapat juga langsung menyebabkan lisisnya bakteri inang dengan menghasilkan beberapa enzim yang berperan dalam peli-sisan tersebut. Enzim ini
disebut dengan enzim endolisin (Addy, 2011).
Kemampuan membunuh tersebut berpotensi untuk terus digali dan dimanfaatkan untuk mengontrol bakteri pembentuk biofilm. Dengan memanfaatkan kemampuan bakteriofag, maka penggunaan sanitizer dapat dikurangi ataupun diKintegrasikan dengan bakteriofag sebagai upaya pengontrolan biofilm yang lebih aman (Nurizkiawan, 2011).
II.
Metode
Penelitian
Metode
penelitian mengisolasi coliphage dari limbah cair kotoran, pertama-tama
persiapkan bahan nutrient agar nya dan cairan limbah kotoran yang sudah di
masukkan kedalam elenmeyer. Setelah itu pindahkan cairan limbah tersebut
menggunakan mikro pipet sebanyak 5 ml ke dalam tabung reaksi, lalu tutup tabung
reaksi menggunakan aluminium foil dengan rapid an tertutup rapat. Kemudian di
sentrifugasi dengan kecepatan 2500 rpm selama 20 menit. Setelah di
sentrifugasi, cairan tersebut dilakukan penyaringan menggunakan penyaringan
kertas saring membrane filter sampai tersaring endapan yang ada di larutan dan
tuangkan ke dalam Erlenmeyer. Kemudian cairan tersebut di pindahkan ke dalam
cawan agar hingga menutupi cawan agarnya. Lalu di inkubasi dengan suhu 370C
selama 3 hari dan dilakukan pengamatan dengan cara menghitung jumlah
plage-plage yang ada di dalam cawan perti.
Prosedur kerja
percobaan mengisolasi coliphage dari limbah cair sebagai berikut :
Gambar 1. Persiapkan bahan limbah
cairan
Gambar 2.
Pengambilan cairan menggunakan mikro pipet
Gambar 3. Penyaringan cairan menggunakan membrane filter
Gambar 4. Penuangan cairan ke
media agar
Gambar 5.
Pemindahan cairan ke media agar menggunakan
mikro pipet
III.
Hasil Dan
Pembahasan
Hasil pengamatan
pada percobaan isolasi coliphage dari limbah cairan dialkuan dengan cara
menghitung jumlah plage dapat dilihat pada
gambar berikut :
( a)
(b)
( c
) ( d )
( e
) ( f )
Pembahasan
( g
) ( h )
( i
) ( j )
Gambar 6. Hasil isolasi coliphage
Percobaan praktikum kali ini menggunakan metode isolasi
coliphage dari limbah cair dapat dilakukan dengan cara mengamati plage pada
cawan petri yaitu dengan hasil dapat dilihat pada table berikut :
Tabel 1. Hasil pengamatan jumlah plage
|
Spesies
|
Drop
|
Jumlah plage
|
|
Bakteri E. coli
|
1 tts (1)
1 tts (2)
2 tts (1)
2 tts (2)
3 ttt (1)
3 ttt (2)
4 ttt (1)
4 ttt (2)
5 ttt (1)
5 ttt (2)
|
9 plage
6 plage
-
2 plage
5 plage
6 plage
4 plage
2 plage
24 plage
7 plage
|
Plaque merupakan
“jendela” pada lapisan sel inang yang hidup menyebarpada permukaan media agar. Plaque dapat dilihat apabila partikel virus (bakteriofage) dicampur
dengan lapisan tipis inang bakteri yang ditumbuhakan dalam media agar. Sel-sel
yang terinfeksi menghasilkan zona jernih yang mengindikasikan bakteri yang
lisis oleh agen virus. Setiap plaque merupakan
hasil infeksi dari satu sel per satu virus diikuti oleh replikasi dan
penyebaran virus tersebut. Kelebihan metode plaque ini
yaitu lebih mudah dan sederhana yaitu dengan melihat zona jernih dari biakan
bakteri yang ditumbuhkan.
Zona jernih tersebut
diakibatkan lisisnya bakteri akibat virus. Kekurangannya yaitu penghitungan
jumlah virus yang menginfeksi tidak spesifik dikarenakan satu zona jernih
dianggap sebagai satu virus. Berdasarkan sifatnya dalam menginfeksi bakteri,
terdapat 2 jenis bakteriofag yaitu lytic dan
lysogenic bacteriophage. Ciri virus bakteriofag
yang
dapat digunakan sebagai terapi adalah memiliki kapabilitas dasar sebagai lytic phages, yaitu menginfeksi dan membunuh sel bakteri dengan melisiskan bakteri. Lysogenic phages merupakan jenis virus yang berintegrasi dengan asam nukleat bakteri terinfeksi. Pada saat ini jenis faga tersebut belum dapat digunakan sebagai terapi, karena akan mengalami fase dorman di dalam sel pejamu; dapat menghambat bakteriofag jenis yang sama masuk; serta seringkali memiliki gen
toksik didalam genomnya. Penelitian untuk mengatasi hal tersebut sedang dikembangkan, sehingga diharapkan lysogenic phages nantinya dapat digunakan sebagai terapi. Infeksi bakteriofag pada
dapat digunakan sebagai terapi adalah memiliki kapabilitas dasar sebagai lytic phages, yaitu menginfeksi dan membunuh sel bakteri dengan melisiskan bakteri. Lysogenic phages merupakan jenis virus yang berintegrasi dengan asam nukleat bakteri terinfeksi. Pada saat ini jenis faga tersebut belum dapat digunakan sebagai terapi, karena akan mengalami fase dorman di dalam sel pejamu; dapat menghambat bakteriofag jenis yang sama masuk; serta seringkali memiliki gen
toksik didalam genomnya. Penelitian untuk mengatasi hal tersebut sedang dikembangkan, sehingga diharapkan lysogenic phages nantinya dapat digunakan sebagai terapi. Infeksi bakteriofag pada
bakteri inang umumnya
ditandai dengan terbentuknya zona bening pada medium uji. Zona bening ini
merupakan zona terhambatnya pertumbuhan koloni bakteri akibat banyaknya bakteri
yang lisis. Bakteriofag yang bereplikasi pada sel bakteri inang akan
menghasilkan enzim pelisis (endolisin) yang menyebabkan bakteri mengalami lisis.
IV.
Kesimpulan
Kesimpulan
dari percobaan ini adalah infeksi bakteriofag pada bakteri inang umumnya
ditandai dengan terbentuknya zona bening pada medium uji. Zona bening ini
merupakan zona terhambatnya pertumbuhan koloni bakteriakibat banyaknya bakteri
yang lisis. Bakteriofag yang bereplikasi pada sel bakteri inang akan
menghasilkan enzim pelisis (endolisin) yang menyebabkan bakteri mengalami
lisis.
Daftar Pustaka
Budzik, J.M. 2003. Phage Isolation and Investigation. Dartmouth Undergraduate Journal of Sciences Vol. III No. 1, 37 – 43.
Haq, A., Irshad, U.l., W.N. Chaudhry, M.N. Akhtar., S. Andleeb, and I. Qadri. 2012. Bacteriophages and Their Implications on Future Biotechnology: A Review. Virology Journal. Vol. 9 (9) : 1-12.
Nurizkiawan, Z. 2011. Isolasi Bakteriofag dan Aplikasinya Dalam Mengendalikan Bakteri Patogen Untuk Meningkatkan Keamanan Pangan. Skripsi. Universitas Brawijaya. Malang.
Pelczar, M. J. and E. C. S. Chan. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta: UI Press,
2008.
Komentar
Posting Komentar